Camilan Muatuk Babat, Laris-manis Jelang Lebaran

oleh
Camilan Muatuk, produksi Desa Moropelang,Kecamatan babat, Lamongan, mulai kuwalahan memenuhi pesanan menjelang Lebaran 2021.Foto/Totok Martono

Damarinfo-Babat.Jatuh bangun membangun bisnis telah dilakoni Mutiara Perssa Martono Putri,21, tahun, sejak masih belia. Ketekunan dan semangat gadis asal Desa Moropelang, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan untuk  mandiri,membukakan jalan sukses mengelola usaha camilan.

Kini produksi  aneka jenis camilan yang dihasilkan tidak saja menembus pasar Lamongan, namun juga luar daerah. “Camilan sudah cukup familiar. Kapan saja waktunya camilan dinikmati berbagai kelas masyarakat,” kata Tiara- sapaan akrab gadis cantik berhijab ini.

Menekuni usaha camilan tidak lepas dari insting bisnis yang terbit saat dirinya sering bertandang di rumah Mbah Buk-nya (nenek) yang tinggal di Tuban. Tiara yang kuliah di Universitas PGRI Ronggolawe (Unirow) Tuban semester VI ini  sering melihat Mbah Buknya membuat camilan kemplang. Untuk dibuat camilan sendiri maupun melayani pesanan. Camilan kemplang sendiri merupakan jajanan khas ‘bumi wali’

“ Sebenarnya banyak pesanan kemplang , namun Mbah Buk enggan melayani karena memang sudah sepuh. Dari situ terbersit keinginan mewarisi usaha Mbah Buk,” papar Tiara sambil tersenyum manis.

Dari ilmu cara membuat kemplang yang di wariskan Mbah Buknya,  awal tahun 2020 Tiara kemudian bereksperimen sendiri.  Dengan menggunakan alat manual sederhana dirinya kemudian memulai usaha. “awalnya dititipkan ke toko dan pasar desa.  Respon pasar cukup bagus. Permintaan terus meningkat,” terang Tiara yang juga guru Taman Kanak-Kanak ini.

Baca Juga :   Tips Hidup Sehat Pasca Lebaran.

Tiara sendiri memproduksi dua jenis kemplang yaitu rasa pedas dan original. Kedua jenis produk berbahan baku tepung tersebut cukup laris dipasaran. Label Muatuk! Digunakan untuk merk usahanya. Nama Muatuk sendiri selain memilik makna ‘mantap’ sebenarnya merupakan gabungan nama kedua orang tuanya “ Mu’amah dan Totok”  “ Orang tua  menjadi sumber inspirasi bagi saya. Selalu mendorong untuk bisa mandiri,dari situ kemudian muncul nama merk Muatuk,” cetus Tiara yang aktif di Kegiatan OSIS waktu masih sekolah di MAN 2 Lamongan ini.

Camilan Muathuk, yang kini produksinya mulai dikenal di Lamongan.Foto/Totok Martono

Produksi camilan Muatuk dijual dalam berbagai kemasan dari 1/4 kilogram  dijual seharga Rp 7500 per setengah kilogram  Rp 17500, kemasan satu kilogram Rp 35 ribu rupiah hingga kemasan Rp 3000 dan Rp 1000 untuk dipasarkan di warkop dan warung makan.

Untuk memasarkan camilan produksinya Tiara tidak malu-malu mendatangi toko-toko atau pasar. “Ndak malu. Yang di jual juga produksi sendiri kok,” ungkapnya. Sedang untuk memasarkan di warkop dan warung makan sudah ada tenaga sales sendiri.

Untuk lebih pengembangan usaha Tiara juga memproduksi berbagai jenis camilan lainnya. Saat ini selain kemplang dirinya juga memproduksi camilan stik rasa wortel, bayam, dan tempe. Bahan baku yang digunakan alami sehingga cukup sehat, bergisi dan hiegenis. Ada juga produksi ubi unggu dan ubi kuning. “ Alhamdulillah, semua jenis camilan laku dipasaran. Harga jual aneka camilan sama dengan harga camilan kemplang,” jelasnya lagi.

Baca Juga :   Bagaimana Kecerdasan Buatan (AI) Membantu UMKM Meningkatkan Penjualan?

Tiara bersyukur pandemi corona tidak terlalu berdampak pada usahanya. Permintaan justru meningkat. “Mungkin karena kebijakan stay at home membuat orang pada suka ngemil camilan selama berada dirumah,” cetus Tiara sambil tersenyum manis.

Memasuki bulan Ramadan yang semakin mendekati hari raya Idul Fitri Tiara mengaku cukup kuwalahan memenuhi pesanan. Dalam sehari rata-rata dirinya bisa memproduksi hingga 15 kilogram-20 kilogram camilan. Untuk mendukung kelancaran usahanya, Tiara sudah melengkapi produksinya dengan mesin listrik dan alat lainnya.

Sebelum menekuni usaha camilan, sulung dari tiga bersaudara ini telah menjajal beraneka jenis usaha. Seperti membuat lampion karakter animasi berbahan baku benang, membuat aksesoris, dan membuat jajanan namun belum beruntung. Disela kesibukannya, Tiara masih menekuni hobinya tata rias. Saat ini dirinya sudah sering melayani permintaan merias wisudawan, pasangan yang sedang lamaran dan sebagainya. Walau belajar otodidak dirinya ingin professional dibidang tata rias.

“Selagi masih mudah kembangkan potensi semaksimal mungkin. Pesan ini yang selalu ditanamkan orang tua, “ terang Tiara yang pernah menjadi pembawa baki pengibar Bendera Pusaka (Paskibra) saat masih sekolah di MAN 2 Lamongan itu.

Penulis  :Totok Martono/Lamongan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *