Belajar Mandiri, Belajar Sekolah Mandiri dari Mbah Hardjo Kardi

oleh
oleh
(Mbah Hardjo Kardi, Foto diambil pada tahun 2018. Koleksi : Kawan Giri Santoso)

damarinfo.com – Sedih rasanya mendengar kabar tokoh Samin, Hardjo Kardi, yang kapundut (meninggal) di usia 90, tahun pada Sabtu 27 Mei 2023. Mbah Harjo, demikian beliau dipanggil, adalah tokoh terkemuka di Dusun Jepang Desa Margomulyo, Kecamatan Margomulyo, Bojonegoro.

Di dinding rumahnya, terpasang sejumlah foto-foto orang penting, yang menjadi gambaran ketokohannya. Mengaku tidak pernah mengenyam pendidikan formal, tetapi paling bersemangat jika diajak bicara kemajuan pendidikan. Kabarnya, Mbak Hardjo rela menyumbangkan materi dan tenaga untuk awal-awal berdirinya Sekolah Dasar Negeri di Dusun Jepang, Margomulyo puluhan tahun silam. Mengaku sebagai seorang otodidak, Mulai dari belajar baca tulis, karawitan, jadi pande besi hingga peduli lingkungan. Ilmu itulah yang kemudian ditularkan ke masyarakat sekitarnya.

Dusun Jepang berada di pelosok kampung. Lokasinya di pinggir hutan dan tepi Bengawan Solo. Puluhan tahun silam, jika musim penghujan datang, anak-anak Dusun Jepang, meski harus bersusah payah jalan kaki sekitar enam kilometer dari Dusun Jepang ke lokasi sekolah di Kecamatan Margomulyo. Atas aspirasi bersama masyarak, Dusun Jepang sudah ada sekolahnya sendiri. “Saya ingin anak-anak bisa sekolah. Tidak seperti saya,” ujarnya suatu ketika.

Berbincang soal dunia pendidikan, sosok Hardjo Kardi bisa dijadikan contoh. Dasarnya adalah, bagaimana membangun spirit kebersamaan agar terselenggara proses belajar-mengajar. Apakah itu, pendidikan yang bersifat formal maupun non-formal.

Jalur formal, dalam arti jenjang sekolahan. Sebaliknya, lahan garap yang masih luas justru ada pada jalur pendidikan non-formal. Misalnya, pada masyarakat yang tinggal di kawasan pedesaan.
Bisa jadi jumlah masyarakat yang buta aksara, sebagian besar berada di pedesaan. Terutama di desa-desa terpencil, seperti di Kecamatan Margomulyo dan Kedewan, yang jaraknya sekitar 65 kilometer dari Kota Bojonegoro. Sebagai catatan warga yang belum terbebas dari buta aksara, terdapat pada usia produktif, yaitu antara 16—44 tahun.

Baca Juga :   Bojonegoro Ingin Mengajukan Gelar Pahlawan Nasional. Begini Prosedurnya.

Ada beberapa factor yang menyebabkan angka buta aksara masih ditemukan. Misalnya persoalan ekonomi dan terbatasnya fasilitas pendidikan. Atau karena lingkungan keluarga yang menganggap sektor pendidikan tidak penting. Selebihnya, karena malas, kenakalan remaja di perkotaan dan sebagainya.

Tetapi, soal biaya pendidikan, bukankah sekarang sudah ada Biaya Operasional Sekolah (BOS) dari Pemerintah. Begitu juga dengan fasilitas sekolah, yang rata-rata terus membaik. Justru, sejumlah sekolah swasta di perkotaan, fasilitasnya berani bersaing dengan sekolah negeri.

Dengan begitu lahan garap untuk pendidikan non-formal yang memang masih tetap relevan jadi perhatian. Upaya memberantas buta aksara bagi usia produktif, bisa lebih leluasa jika masuk ke kampung-kampung dan tempat terpencil. Hanya saja perlu sekali diubah metode belajar-mengajarnya bagi orang buta huruf. Fleksibel, menghindari rutinitas, dan tidak terlalu formal. Yang lebih penting, berupaya menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pendidikan.

Pendidikan non-formal untuk keterampilan juga menjadi bagian penting. Bisa saja, programnya dijadikan satu paket. Yaitu paket pemberantasan buta huruf yang dilanjutkan dengan pendidikan keterampilan. Misalnya, ketrampilan berwirausaha bagi Ibu-ibu rumah tangga, juga anak-anak muda untuk dididik menjadi masyarakat kreatif.

Di Bojonegoro perlu dikembangkan semangat kewirausahaan, terutama sektor non-migas. Wirausaha berciri khas daerah, menjadi sangat penting untuk terus ada kelanjutan. Misalnya, batik Jonegoroan, usaha bubut kayu Kasiman, gerabah Malo, camilan ledre dari Padangan dan sebagainya. Menjadi sebuah usulan menarik, jika ketrampilan tersebut dimasukkan dalam paket pendidikan non-formal terutama peserta didik lanjutna program pemberantasan buta aksara.

Sayangnya, di kabupaten ini sektor pendidikan non-formal tidak tergarap dengan optimal. Mungkin hanya sedikit orang atau lembaga yang mengetahui program ini. Sehingga menjadi sangat penting, jika lembaga yang berada di garis sektornya berperan menjembataninya ke masyarakat.
Di luar itu, tentu mengharapkan tampilnya aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat atau kaum pendidikan berperan untuk berkecimpung di dalamnya. Fasilitas semacam Balai Latihan Kerja milik Departemen Tenaga Kerja, bisa juga digunakan untuk ajang berinteraksi dan membangun jaringan.

Baca Juga :   Samin Surosentiko Layak Mendapatkan Gelar Pahlawan Nasional

Menurut Andreas Harefa, mentoring bidang pendidikan non-formal, para peserta didik pendidikan non-formal mampu melahirkan apa yang disebutnya sebagai ‘guru-guru model baru’. Nantinya, mereka tidak hanya belajar berketrampilan, yang suatu saat bisa menjadi guru di bidangnya.

Layaknya pendidikan formal, mutu pengajaran juga sangat ditekankan pada lembaga-lembaga pendidikan nonformal. Komunikasi sangat penting untuk menunjang keberhasilan seseorang. Mungkin, pendidikan jalur ini juga sangat baik bagi mereka yang baru saja lulus sekolah. Bukankah di lapangan pasar lebih banyak menuntut seseorang menguasai praktek daripada teori.

Pemerintah Bojonegoro, dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Dinas Tenaga Kerja Daerah, untuk lebih peka dengan perkembangan ini. Karena pada saatnya, pendidikan jalur non-formal akan sangat menunjang tumbuhkembangnya lahan baru tenaga kerja. Paling tidak, ini bisa membantu memperkecil kesenjangan social, mengurangi angka pengangguran dan memberantas buta aksara.

Pada akhirnya, kita mesti harus berterima kasih pada orang yang berdedikasi ikut membantu kemajuan pendidikan. Ide dan kepeloporan orang semacam Hardjo Kardi, yang tanpa pamrih, ikut membantu mencerdaskan anak-anak negeri, anak-anak kita, generasi kita.

Semoga Tuhan di atas sana memberikan tempat terbaik, bagi orang-orang baik.

Selamat jalan Mbah Hardjo Kardi

Penulis: Widiatmiko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *