Bojonegoro, damarinfo.com – Pakaian sering kali menjadi identitas sebuah daerah. Di Bojonegoro, batik Samin motif Obor Sewu kini resmi menjadi Pakaian Dinas Harian (PDH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN). Para ASN wajib mengenakannya setiap Kamis di minggu pertama dan ketiga.
Proses penetapan seragam ini tidak instan. Ada perjalanan panjang dan tekad kuat di baliknya. Sosok Nurul Azizah berperan penting dalam mewujudkan keputusan ini.
Menelusuri Akar Budaya Samin
Suku Samin yang mendiami Dusun Jepang, Kecamatan Margomulyo, memiliki adat istiadat yang unik. Sejak 1898, mereka mempertahankan cara hidup yang khas, termasuk dalam hal berpakaian.
Melihat potensi budaya ini, Nurul Azizah ingin agar warisan Samin tidak hanya lestari, tapi juga menjadi bagian resmi dari wajah Bojonegoro.
Napak Tilas Budaya ke Sawahlunto
Tahun 2015, saat menjabat Kepala Dinas Dinas Kebersihan, Pertamanan dan Pemakaman (DKPP) Nurul ikut dalam kunjungan ke makam Samin Surosentiko di Sawahlunto, Sumatera Barat. Ziarah ini menjadi langkah awal upaya pelestarian nilai-nilai Samin, salah satunya meminta ijin kepada pemerintah setempat untuk mengambil tanah makam.
“Pada saat itu jawaban yang diberikan yaitu untuk dipertimbangkan”, ucapnya saat upacara penyerahan tanah makam samin surosentiko di Pemkab Bojonegoro 20-Februari-2024 lalu.
Pada Februari 2024, saat menjabat Sekretaris Daerah, ia memimpin tim untuk mengambil tanah makam Samin Surosentiko setelah mendapatkan persetujuan dari pemerintah kota Sawah Lunto. Kali ini, mereka mengambil tanah dari makam Samin Surosentiko dan membawanya ke Bojonegoro. Tindakan ini mengikuti pesan almarhum Hardjo Kardi, tokoh Samin generasi penerus.
Perjalanan mereka tidak mudah. Medan terjal dan jalanan sempit harus dilalui. Namun, Nurul dan timnya tetap melanjutkan proses ini sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
“Sesuai pesan, harus ada leluhur yang dikembalikan ke Bojonegoro. Semoga kita bisa meneladani ajarannya,” kata Nurul waktu itu.

Dari Udeng ke Batik: Simbol yang Diperjuangkan
Langkah berikutnya datang pada awal April 2024. Nurul yang menjabat sebagai Sekda, mengusulkan kepada Pj Bupati Adriyanto agar ASN mengenakan udeng khas Samin bermotif Obor Sewu setiap Rabu minggu pertama. Usulan ini segera ditindaklanjuti melalui surat edaran resmi.
Setahun kemudian, Nurul yang sudah menjadi Wakil Bupati, bersama Bupati Setyo Wahono, menetapkan batik Samin Obor Sewu sebagai seragam ASN. Penetapan ini tertuang dalam Surat Bupati Bojonegoro nomor 085/78/4/12.03/2/25. Para ASN di Bojonegoro diwajibkan mengenakan Seragam Batik Samin setiap Kamis, minggu I dan minggu ke 3.

Bukan Hanya Simbol, Tapi Warisan
Dyah Enggar Mukti, Kepala Bagian Organisasi Pemkab Bojonegoro, menegaskan bahwa Prof. Sugeng Suwardoyo memang merancang motif batik. Namun, ide menjadikannya PDH datang langsung dari Nurul Azizah.
“Bu Nurul sangat serius soal adat Samin. Mulai dari ziarah ke Sawahlunto sampai menjadikan batik Obor Sewu sebagai seragam ASN, beliau yang menggerakkan,” ujar Dyah, yang pernah menjabat Camat Margomulyo.
Warisan Leluhur yang Hidup di Kantor Pemerintah
Samin Surosentiko, tokoh perlawanan terhadap kolonial Belanda, meninggal dalam pengasingan di Sawahlunto. Kini, nilai-nilai yang ia perjuangkan hidup kembali di Bojonegoro. Setiap ASN yang mengenakan batik Obor Sewu, mengenakan sejarah dan semangat perlawanan itu di tubuh mereka.
Semua ini tak akan mungkin terjadi tanpa tekad kuat Nurul Azizah. Ia berhasil menyatukan budaya lokal dengan wajah birokrasi modern. Batik Samin bukan lagi hanya milik satu komunitas, tapi menjadi simbol seluruh Bojonegoro.
Penulis : Syafik






