Bahsul Masail Haul KH. Moh. Sholeh ke 31 akan bahas Sholat PMI dan Sajadah Jumbo

oleh
oleh
Ilustrasi sajadah jumbo

Bojonegoro, damarinfo.com – Bahsul Masail menjadi salah satu rangkaian Haul KH. Moh. Sholeh ke 31 dan Masyayikh Pondok Pesantren Attanwir Talun Kecamatan Sumberrejo Kabupaten Bojonegoro yang akan berlangsung pada Rabu 12 Juli 2023 dengan as’ilah permasalahan pelaksanaan sholat Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan penggunaan sajadah jumbo saat sholat jamaah.

Dalam as’ilah di sebutkan, Fira merupakan seorang PMI di Hongkong, dengan sistem kerja kontrak dan biaya berangkat dari majikan (hutang di awal), agar hutangnya bisa lunas dan kontrak kerja terus berlanjut maka dia harus bisa mengambil hati majikan termasuk dengan “manut” agar tidak dipulangkan. Dia bekerja mengasuh seorang nenek non-Muslim yang tidak memperkenankannya untuk puasa dan sholat, jika tidak patuh pada majikannya dia bisa dipulangkan ke Indonesia. Karena Fira seorang muslimah yang taat ia mencuri-curi waktu untuk sholat dengan busana seadanya (tidak pakai mukena), dengan posisi duduk dan menghadap qiblat pun yang penting yakin karena dia mengandalkan aplikasi penunjuk arah qiblat yang kadang berubahrubah arahnya, bahkan kadang dua sholat pun dikerjakan dalam satu waktu (di-jama’), bahkan sementara ini Fira belum berani berpuasa karena takut majikan.

Baca Juga :   Pastikan Kesiapan Haul Akbar, IKAMI Attanwir Gelar Rapat

“Bagaimana hukum sholat-sholatnya yang dikerjakan Fira dengan kondisi tersebut, Jika sah apakah wajib mengulangi sholatnya (i’adah), mengingat waktu yang berlangsung lama, dapatkah dibenarkan tindakan Fira yang sementara ini tidak berpuasa karena takutmajikan,” ujar Ketua Panitia Rangkaian Haul H. Amin Mahmud sesuai hasil tim penyusun.

Yang kedua, menurut Mas Amin -sapaan akrabnya- deskripsi masalah fenomena yang terjadi di masyarakat kita dalam ibadah perlu mendapatkan perhatian, dimana banyak dari mereka sholat membawa sajadah baik di masjid maupun musholla, tak jarang kita melihat para jamah memakai sajadah sajadah berukuran besar melebihi badannya sehingga hal ini menyebabkan dampak tidak rapatnya barisan, sebab sajadah tersebut seakanakan “mengkapling” area sholat dan menyebabkan orang lain disampingnya sungkan memakai atau menginjak area tersebut. Pemakaian sajadah juga membuat kenyamanan dalam ibadah, bahkan banyak masjid yang menyiapkan karpet dengan berbagai model di masjid untuk membuat nyaman para jama’ah, ada karpet model polos, model gambar mihrob mini, dan sebagainya.

Baca Juga :   Sang Kyai Pengarang Kitab dengan Metode Ilmiah Modern

“Minimnya pemahaman masyarakat akan standar barisan yang rapat juga perlu kita sikapi, mengingat rapatnya barisan sholat berimbas pada fadlilah-fadhilah dalam sholat berjamaah, seperti jarak kaki orang yang shoat, jarak kaki antara satu orang dengan yang lainnya, dan
sebagainya,” tandasnya.

Lanjut H. Amin, dalam diskripsi tersebut muncul pertanyaan bagaimana standar atau tolok ukur barisan sholat di anggap rapat, bagaimana hukum memakai sajadah besar (melebihi ukuran tubuh pemakainya) baik di masjid maupun musholla, bolehkah seseorang menginjak atau memanfaatkan sajadah yang berada di sampingnya tanpa izin dari pemilik sajadah, apakah ada anjuran dalam agama memakai sajadah dengan alasan kenyamanan ibadah, mengingat kebanyakan sajadah bergambar, bagaimana hukumnya takmir masjid menyiapkan sajadah besar di masjid atau karpet dengan berbagai bentuk model dan gambarnya.

“Ini terjadi di kalangan masyarakat, sejumlah jamaah membawa sajadah jumbo ahirnya barisan renggang karena jamaah lain juga tidak enak menginjaknya ” pungkasnya.

Penulis : Rozikin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *