Warga Lamongan Rame-rame Gopyokan Tikus

oleh
Kepala Desa Kawistolegi, Kecamatan Karanggeneng, Lamongan, Muhadji. bersama warga menangkap tikus.Foto/Totok

Lamongan-Membasmi tikus dengan cara gopyokan dianggap masih cukup efektif dibanding menggunakan media racun tikus atau memasang strum listrik di sawah. Seperti dilakukan warga Desa Kawistolegi, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan yang serentak membasmi tikus dengan gopyokan pada Jumat 31-1-2020.

Sejak pagi pukul 07.00 waktu setempat, puluhan laki-laki warga Kawistolegi turun ke sawah. Semuanya membawa pentungan, arit dan berbagai senjata lainnya. Beramai-ramai mereka ngajag (memburu) tikus yang selama ini menjadi hama tanaman padi di sawah. Selain warga kegiatan tersebut juga di hadiri UPT Pertanian, petugas dari Polsek dan Koramil Karanggeneng.

Agar hama pengerat tersebut keluar dari sarang, dilakukan pengasapan di lubang-lubang sarang tikus dengan menggunakan media blower. Tikus yang keluar dari sarang kemudian diburu beramai-ramai. Dalam waktu 1,5 jam ratusan tikus berhasil dibantai. “Cara gopyokan dipilih karena lebih aman dan murah,” kata Kades Kawistolegi Muhadji.

Warga Desa Kawistolegi, Karanggeneng, Lamongan, rame-rame menangkap tikus di sawah.Foto/Totok Martono

Gopyokan tikus sendiri sudah belasan tahun tidak pernah lagi dilakukan oleh warga sehingga dengan kegiatan tersebut kembali memupuk kebersamaan antar warga.

Baca Juga :   Warga Cepu Diduga Terpapar Covid-19

Gopyokan tikus juga bisa mengurangi pemakaian jebakan setrum listrik yang sudah banyak memakan korban jiwa. “Pemerintah Desa Kawistolegi sudah menerapkan larangan pemakaian setrum listrik di sawah untuk membasmi tikus,” terang Muhadji. Hari ini gopyokan tikus dilakukan dilahan sawah seluas 25 hektare. Dan akan dilanjutkan pada hari minggu 2-2-2020 mendatang.

Baca Juga :   Program Baznas Blora Bantu Usaha Warga Kurang Mampu

Saat ini sebagian besar petani di Lamongan sedang melakukan tanam padi. Usia tanaman baru sekitar 10-20 hari. Untuk menghindari serangan tikus, petani banyak yang menggunakan ‘pagar’ tanaman di sawah dengan plastik fiber dan seng. Padahal biayanya tidak murah. Untuk fiber plastik harganya Rp 150 ribu per glondong. Satu gelondong plastik hanya cukup untuk ‘memagari’ sawah seluas 100 ru (satu RU=2,75 meter) . Untuk pagar seng lebih mahal lagi. Harga seng 12 ribu permeter. Untuk memagari sawah 100 ru bisa menghabiskan dana Rp 1,2 juta.
Penulis :Totok Martono
Editor : Sujatmiko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *